Seputar Depok

Karim Maullah, Bocah 9 Tahun Berjuang Demi Masa Depan

(barometernews.net) Kisah viral Karim Maullah berawal dari salah satu akun postingan masyarakat melalui media sosial. Dia mendadak terkenal bukan karena wajahnya yang rupawan ataupun aksinya yang luar biasa dilakukan anak sebayanya.

Bocah usia 9 tahun ini tenar karena kegigihan tekadnya pergi-pulang Kemayoran-Depok naik KRL Commuterline berjuang demi masa depannya. Setiap hari, Karim Maullah berangkat dari rumahnya pukul 04.00 WIB agar tiba tepat waktu di sekolah.

Ketika terpotret, terlihat Karim Maullah duduk di sudut kursi kereta mengenakan seragam Sekolah Dasar. Keunikan foto terlihat karena Karim Maullah tidak mengenakan sepatu, seperti dikutip oleh intisari.grid.id

Pemilik akun juga sempat menanyakan perihal dimana sekolah Karim Maullah dan berasal dari mana dia. Karim Maullah mengaku sekolah di Kota Depok, sedang dia berasal dari Kemayoran Jakarta Pusat.

istimewa

Setelah ditanyakan lebih dalam lagi, akhirnya dapat diketahui bahwa Karim Maullah adalah seorang siswa kelas 4 SD sekolah nonformal Masjid Terminal (Master), Yayasan Bina Insan Mandiri. Lokasi sekolah berada di sisi kiri Metropolitan Stasiun Terminal (Metro Stater).

Yang lebih membuat miris, Karim Maullah sudah ditinggal mati ibunya sejak usia tiga bulan. Saat ini, Karim hanya dirawat oleh neneknya, Dyana usia 61 tahun, yang sudah sakit-sakitan yang berprofesi sebagai pemulung. Sedangkan ayahnya yang bernama Riyadi usia 29 tahun, tidak pernah pulang.

Keterangan Sekolah Serta Status Piatu Karim Maullah:

Dari keterangan Anti, salah satu guru yang mengajar Karim Maullah saat kelas 2 SD menyebutkan, Karim Maullah sebelumnya pernah tinggal di Kampung Lio, Pancoran Mas. Namun saat menduduki kelas 3 SD, ada perubahan pada perilaku Karim Maullah. Karim Maullah sering mengantuk di kelas, bahkan sesekali sempat tertidur saat pelajaran tengah berlangsung. Hal itu diutarakan Marwan, guru kelas 4 SD yang saat ini mengajar Karim Maullah.

Keterangan lainnya didapat dari Nurohim, Ketua Yayasan Bina Insani. Karim Maullah adalah anak yang baik dan penurut.

Istimewa

Sementara ayahnya kerja sebagai pekerja lepas di bilangan Manggarai dan tak pernah pulang. Kini Karim Maullah tinggal bersama neneknya di Kemayoran.

“Sampai saat ini dari pihak yayasan belum mempunyai data lengkap mengenai anak ini karena bapaknya tidak pernah pulang. Yang mendampingi ke sekolah setiap hari neneknya,” katanya.

Nurohim juga berharap, semoga kisah perjuangan Karim Maullah tersebut dapat menjadi contoh nyata, bahwa cita-cita memang harus dikejar dengan gigih.

Ketua Bidang Pendidikan Yayasan Bina Insan Mandiri, Mustamin menyampaikan sekolah non formal Bina Insani gratis dan tidak mempunyai syarat apa pun.

“Yang penting ada kemauan, dari kalangan apa pun semua diterima,” ucapnya.

Di sisi lain, sang nenek, Dyana, menuturkan, ibu Karim Maullah sudah meninggal dunia karena sakit saat umur anak itu baru tiga bulan. Sejak itu, Karim dirawat olehnya.

Sang nenek mengisahkan, sebenarnya dia dan Karim Maullah sempat tinggal di Kampung Lio, Pancoran Mas, tak jauh dari sekolahnya. Namun, setelah suami keduanya meninggal dunia, dia dan sang cucu tinggal di Kemayoran, yang merupakan kediaman asli neneknya.

Neneknya memutuskan pulang ke Kemayoran sambil membawa Karim karena kasihan dengan mantan suaminya yang telah renta dan sakit-sakitan.

Sejak itu pulalah, Karim tiap hari berangkat pukul 04.00 WIB demi menimba ilmu di SD Master.

Karim Maullah Dapat Hadiah:

Viralnya Karim Maullah, bocah 9 tahun yang berjuang demi masa depan yang tenar lewat media sosial menimbulkan banyak tanggapan masyarakat.

Ada yang terharu, ada yang bangga dan ada yang sedih melihat anak seusianya berjuang sendiri menapaki pendidikan yang layak demi mewujudkan cita-citanya. Ribuan untaian doa pun dihaturkan untuk bocah SD tersebut, ditambah baluran semangat lewat bait bait kolom komentar yang ada di akun sosial.

Viralnya Karim Maullah juga terdengar dan membuat hati Komandan Kodim (Dandim) 0508/Depok, Letkol Inf Eko Syah Putra Siregar, tergerak untuk mengulurkan bantuan.

Dandim Eko lalu memerintahkan Danramil 01/Pancoran Mas, Kapten Inf Kholidi, untuk menggali kebenaran Kisah Karim Maullah dan mencari bocah itu untuk sekadar membantu keperluannya

Senin (29/4/2019) pagi, Kapten Kholidi pun mampir ke SD Master, yang terletak di dekat Terminal Margonda, Jalan Raya Margonda.

Tiba di sekolah, pihak yayasan memberi tahu Kapten Kholidi bahwa kisah Karim Maullah yang bolak-balik Kemayoran-Depok tanpa sepatu benar adanya.

Akhirnya, setelah melalui beberapa tahapan. Kholidi dapat bertemu dengan anak tangguh yang tidak kenal menyerah tersebut.

Saat jam istirahat, Kholidi pun meminta izin pihak sekolah untuk mengajak Karim Maullah keluar dan membelikannya barang kebutuhannya. Neneknya juga ikut serta.

“Intinya kita peduli aja bahwa di wilayah kita ada berita seperti itu, kemudian perintah dari Komandan Kodim agar dicari alamatnya. Setelah nyampe situ saya tanya-tanya, ternyata benar apa yang diviralkan itu,” ujar Kholidi.

Kholidi memberikan Karim Maullah hadiah berupa dua pasang sepatu, lengkap dengan dua seragam Sekolah Dasar, serta peci.

“Tadi saya tanya anaknya kalau dibeliin sepatu seneng dong? Seneng. Akhirnya saya bawa ke Pasadena (pusat pertokoan di Depok) naik mobil pas istirahat, saya izin sama kepala sekolahnya. Di Pasadena saya beliin baju seragam sekolah dua, sepatudua, kaos kaki, peci. Jadi seneng banget, Mas, buset, aku sampai ikut seneng dan terharu gitu,” tuturnya.

Kholidi menyampaikan, rencananya Karim dan neneknya akan dicarikan rumah kontrakan di dekat sekolah agar tidak lelah bolak-balik Kemayoran-Depok. Sebuah lembaga sosial sudah bersedia menanggung biaya sewa kontrakannya.

“Rencananya tadi ada teman-teman dari Peduli Negeri mau ngontrakin, sedang dicari sama Babinsa kontrakan yang terdekat,” pungkas Kholidi. (Bin)

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button
Close
Close